Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Tentara Malaysia Bersiap Menyerbu Pasukan Sulu

Pasukan Malaysia mengepung desa di Sabah yang dikuasai Kesultanan Sulu
VIVAnews - Tentara Malaysia yang mengepung pasukan Sulu di Lahad Datu, Sabah, telah mendapatkan lampu hijau untuk masuk dan menyerbu. Langkah ini dinilai cara paling tepat untuk mengusir orang-orang dari Kesultanan Sulu itu dari wilayah mereka.

Diberitakan The Star, Selasa 26 Februari 2013, lampu hijau ini diberikan setelah pemimpin orang-orang Sulu yang menduduki desa Tanduao, Azzimudie, yang juga adik dari Sultan Sulu Jamalul Kiram III, bersumpah akan menuntut hak mereka sampai mati. Mereka meminta wilayah Sabah dikembalikan pada mereka, berdasarkan klaim historis dan nenek moyang.

Kepala polisi Sabah, Komandan Datuk Hamza, mengatakan mereka akan menyerbu masuk dan melucuti orang-orang Sulu yang diduga bersenjata. "Kami tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertindak," kata dia setelah melakukan rapat dua jam bersama jenderal angkatan darat, laut, dan kepolisian Malaysia.

Namun diharapkan opsi penyerbuan tidak benar-benar terjadi. Dalam 48 jam ke depan, akan menjadi saat-saat krusial bagi pemerintahan Malaysia dan Filipina dalam membujuk Azzimuddie agar hengkang dari Sabah. Selama ini, mereka telah menggunakan perantara keluarga dan pemerintah, namun masih belum berhasil.

Helikopter polisi juga telah menyebar ratusan leaflet ke desa Tanduao yang berisikan anjuran untuk segera menyerah dan meninggalkan wilayah itu dengan damai. Hamza mengatakan bahwa sejauh ini mereka telah menahan lima orang yang diduga terlibat pendudukan untuk dimintai keterangan.

Minggu lalu, sempat terdengar tembakan dari dalam desa. Pihak Malaysia belum bisa memastikan dari mana persisnya tembakan itu berasal. Malaysia juga membantah rumor yang mengatakan bahwa sudah ada dua orang yang tewas.

Dari jarak sekitar 500 meter, pasukan Malaysia mengepung desa tersebut, baik di darat dan di laut. Mereka juga memblokade pintu masuk sehingga pasokan makanan bagi pasukan Sulu semakin menipis.

Sementara itu, kapal perang Filipina yang berangkat dari Bongoa di Tawi Minggu lalu telah berada di perairan dekat Lahad Datu. Kapal ini diturunkan untuk menjemput orang-orang Sulu dan memberikan bantuan medis bagi mereka yang terluka. (sj)

Hujan Tembakan Di Sabah, Filipina Didesak Cari Solusi

 
RMOL. Tiga pekan sudah pengikut Kesultanan Sulu, Filipina, menduduki Desa Tanduo, Lahad Datu, Negara Bagian Sabah, Malaysia. Perpecahan dikabarkan mulai timbul di antara warga Filipina pengikut Kesultan Sulu yang kini menduduki Sabah. Perpecahan timbul akibat menipisnya persediaan makanan yang mereka miliki.

Sekitar 180 warga Filipina menduduki wilayah Lahad Datu di Negara Bagian Sabah, tidak bisa mendapatkan persediaan makanan dari luar karena dikepung aparat Malaysia.

Pihak Malaysia mengklaim ada beberapa pengikut Sultan Sulu yang ingin keluar dari kelompoknya. Namun, aksi tersebut dicegah pemimpin kelompok mereka Raja Muda Azzimudie Kiram, saudara Sultan Sulu Jamalul Kiram III.

“Tembakan itu mungkin dimaksudkan untuk mencegah beberapa pengikut yang ingin pulang,” kata sumber Inquirer.

Sumber itu juga mengatakan, Malaysia telah memberikan perpanjangan 48 jam, sejak Minggu (24/2), bagi pasukan Sulu meninggalkan Lahad Datu. Sumber itu meminta untuk tidak disebutkan namanya karena ia tidak berwenang berbicara kepada media.
“Tidak ada korban tetapi tembakan mengejutkan pasukan keamanan yang memang sangat tegang,” terangnya.

Namun, pejabat kepolisian Sabah, Hamza Taib membantah adanya insiden tembakan. “Kabar itu tidak benar,” bantah Hamza, yang tiba di Lahad Datu sekitar pukul 11 pagi.
Sejak pagi, telah tersebar luas ada penembakan di Desa Tanduo “Kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara damai. Kami berusaha menekan seminimal mungkin penggunaan kekerasan,” tegas Hamza.

Bekas perwakilan Filipina untuk Area Pertumbuhan Timur ASEAN (BIMP-EAGA), Jesus Dureza, meminta Malaysia untuk mencabut blokade dan menghentikan tenggat waktu kepada pasukan Kesultanan.

“Malaysia seharusnya berhenti mendesak mereka (kelompok Kesultanan Sulu). Mereka seharusnya mencabut blokade makanan dan jadwal evakuasi paksa. Meski mereka memberi perpanjangan waktu, Malaysia hanya membuat masalah makin parah,” kata Dureza.

Dureza mengimbau Malaysia menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada Filipina. “Mereka akan menggunakan pengaruh untuk bernegosiasi,” terang Dureza seraya menambahkan, Malaysia harusnya memberikan kebebasan bagi Filipina untuk bertemu Kesultanan Sulu dalam mencari solusi.

Menurut Kesultanan Sulu, mereka mengirim berjumlah 400 orang dan 20 di antaranya membawa senjata untuk tinggal di Lahad Datu, Pulau Kalimantan atau Borneo, yang masuk Negara Bagian Sabah, Malaysia. Mereka mengklaim, wilayah tersebut merupakan tanah leluhur mereka, Sultan Sulu.

Merasa usahanya belum berhasil, Sultan Jamalul Kiram III akan meminta bantuan kepada pemerintahan Amerika Serikat (AS).

“Dalam perjanjian Kiram-Carpenter pada 1915 disebutkan bahwa Sultan akan mendapatkan proteksi dari pihak AS jika ada masalah yang muncul di Sabah antara Sultan Sulu dengan negara asing lain,” jelas juru bicara Kesultanan Sulu Abraham Idjirani kepada Rappler, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]

Jenderal TB Hasanuddin Tantang Panglima TNI Turun ke Papua

 

RMOL. Ada empat persoalan mendasar di Papua yang hingga kini belum diselesaikan sehingga terus memicu konflik.

Persoalan pertama, kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, terkait dengan kegagalan pembangunan. Sementara selama ini, dana otonomi khusus yang digelontorkan ke Papua juga tidak tepat sasaran. Anggaran yang banyak itu hanya dinikmati para elitnya saja untuk berfoya-foya.

Persoalan kedua, lanjut TB Hasanuddin, masih adanya diskriminasi terhadap warga asli Papua. Ketiga, persepsi integrasi Papua ke dalam NKRI masih diperdebatkan. Dan terakhir, ada para senior di Papua yang masih trauma dengan rezim Orde Baru yang selalu menggunkana senjata.

"Persoalan mendasar ini harus diselesaikan, diantaranya sebagaima usulan beberapa pakar, melalui dialog. Tapi sayangnya Presiden SBY juga tidak pernah menggunakan pendekatan dialog ini, selalu diundur terus," kata TB Hasanuddin kepada Rakyat Merdeka Online di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Selasa, 26/2).

TB Hasanuddin sendiri setuju dengan pendekatan dialog ini asal masih dalam bingkai NKRI. Dialog juga bisa melibatkan pihak ketiga, seperti LSM, yang netral dan independen.

"OPM itu juga tidak besar, mereka bisa diamputasi. Tapi anehnya kenapa tak bisa, dan kenapa Presiden SBY ragu. Kita bisa lakukan negosiasi dengan OPM, misalnya, senjata mereka serahkan atau kita kejar mereka," tegas TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin tahu persis jumlah prajurit TNI di Papua sangat banyak dan mencapai ribuan. Tapi anehnya lagi, ribuan pasukan TNI ini tidak bisa menumpas OPM yang jumlahnya sangat sedikit. TB pun tidak setuju dengan pernyataan Menko Polhukam Djoko Suyanto bahwa medan di Papua terlalu berat dan OPM susah dikejar.

"TNI itu bisa di segala medan, apalagi menggunakan senjata yang modern. Sekalipun OPM itu bersembunyi, seharusnya bisa dikejar oleh TNI yang jumlah ribuan. Alasan ini tidak masuk akal. Lagi pula, kenapa Panglima TNI tidak turun ke Papua," tantang TB Hasanuddin. [ysa]

Senin, 25 Februari 2013

Tantangan Menggelar Operasi Tempur Terbuka


Presiden Sukarno usai memberikan pidain teniang pemhebasan Irian Barat di Yogyakana bulan Desember 1961 langsung menandatangani Naskah Kumando Rakyat. Naskah yang kemudian menelurkan Trikora itu diserahkan langsung oleh Sekretaris Depertan, Achmadi.
Presiden Sukarno usai memberikan pidato tentang pembebasan Irian Barat di Yogyakarta bulan Desember 1961 langsung menandatangani Naskah Kumando Rakyat. Naskah yang kemudian menelurkan Trikora itu diserahkan langsung oleh Sekretaris Depertan, Achmadi.

Operasi untuk mambebaskan Irian Barat yang digelurakan oleh Presiden RI Sukarno kendati dilaksanakan salam keterbatasan alutista yang dimiliki militer RI telah berhasil menunjukkan betapa bangsa ini bisa menunjukkan kamampuannyaa ketika harus berperang malawan bangsa lain (Belanda).
Saya tidak mengucapkan kehendak saya saja, tetapi tiap-tiap perkataan yang saya ucapkan ini didukung sepenuhnya oleh segenap rakyat Indonesia. Dan jikalau saya memberikan komando, sebenarnya bukan komando dari Soekarno kepada Rakyat Indonesia sebenarnya bukan komando dari Presiden Republik Indonesia kepada rakyat Indonesia, sebenarnya bukannya komando dari Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, bukan komando dari pada Panglima Besar Pembebasan Irian Barat kepada rakyat Indonesia. Tidak! Tapi sebenarnya adalah komando dari rakyat Indonesia kepada rakyat Indonesia sendiri. Tidaklah benar jika saya katakanabahwa inilah kehendakmu sendiri. Saudara-saudara rakyat Indonesia?”
“Maka oleh karena itu, hei segenap rakyat Indonesia, mari sebagai tadi saya katakana gagalkan ini usaha fihak Belanda untuk mendirikan “negara Papua”, kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat! Siap sedia di dalam waktu yang singkat pada komando untuk mengadakan rnobilisasi umum daripada rakyat Indonesia untuk membebaskan sama sekali Irian Barat itu daripada cengkeraman imperialism Belanda!” Itulah salah satu kutipan dari buku “25 Tahun Trikora” yang digelorakan oleh Presiden Sukarno sewaktu mengumandangkan Trikora di lapangan Alun-alun Utara, Yogyakarta, 19 Desember 1961 yang dihadiri lebih dari satu juta orang. Sejumiah di antaranya adalah perwira muda yang baru luIus dari Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang dan dilantik oleh Presiden. Perintah itu kendati bermakna komando dari rakyat untuk rakyat, jelas merupakan perintah langsung bagi Angkatan Bersenjataa RI untuk mengambil tindakan secepatnya guna menyiapkan kekuatan tempur untuk membebaskan Irian Barat.
Dengan melihat fakta dilapangan bahwa untuk memasuki daratan Irian Barat hanya bias ditempuh lewat laut dan udara, kekuatan Angkatan Udara RI serta Angkatan Laut RI (TNI AL) harus bekerja keras. Apalagi pada saat itu, khusus kekuatan tempur ALRI yang tersedia hanya bias memenuhi 30% dari kebutuhan, meskipun unsur angkutan lautnya mencapai sekitar 60%. Sedangkan kekuatan udara hanya terdiri dari empat buah pembom jenis TU-16, 6 IL-28, 6 B-25/B-26. 12 MIG -17, 6 P-51 Mustang, 5 C-130 Hercules, dan 20 C-47 Dakota.
Penggalangan Kekuatan
Untukniemenuhi kebutuhan persenjataan“ karena pemerintah sudah mefnililci perhitungan bahwa pada suatu saat Irian Barat harus dibebaskan secara fisik (militer), sebelum Trikora dikumandangkan langkah untuk menyediakan senjata dan pasukan tempur sudah dilaksanakan.
Salah satu respons yang ditanggapi oleh TNI AL atas perintah Trikora adalah pengadaan sukarelawan persenjataan dalam waktu terbatas. Suasana ketika KRI Irian tiba dari Rusia
Salah satu respons yang ditanggapi oleh TNI AL atas perintah Trikora adalah pengadaan persenjataan dalam waktu terbatas. Suasana ketika KRI Irian tiba dari Rusia

Persiapan itu adalah sistem pertahanan keamanan nasional berupa Perlawanan Rakyat Semesta dengan Angkatan Bersenjata sebagai intinya dan telah dilengkapi alutsista yang dapat mengimbangi militer Belanda. Suatu penandatangan pembeli- an senjata atas dasar kredit jangka panjang dengan Uni Soviet (Rusia) telah dilaksanakan pada akhir tahun 1960. Pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili oleh Menteri Keamanan Nasional Ienderal Abdul Haris Nasution. Pembelian senjata tersebut bahkan merupakan pembelian terbesar yang dapat dipergunakan untuk penambahan kebutuhan kekuatan untuk laut, darat, dan udara.
Dalam kondisi kepepet karenayharus memenuhi persenjataan yang nilainya sangat besar, konon ketika Presiden Sukarno ditanya bagaimana cara mernbayarnya nanti , hanya dijawab enteng, “Kemplang saja!” Sambil mengusahakan persenjataan yang kemudian dibeli dari Soviet dan Inggris, struktur komaiido tempur Trikora pun dibentuk ke dalam Komandoa‘ Mandala. Mayor Ienderal Suharto yang keinudian menjabat sebagai Panglima Komando Mandala pun memiliki pendapat sendiri ketika hanya diberi waktu selama enam bulan untuk mempersiapkan sebuah rencana operasi militer.
“Markas Komando didirikan di Makassar (Ujung Pandang). Saya tahu, ini ujian yang paling besar. Ditentukan, paling lambat tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah harus berkibar di Irian Barat. Ini berarti, saya cuma diberi waktu tujuh bulan. Tetapi saya taat saja, saya tunduk kepada perintah”. Alasan Mayjen Suharto sangat masuk akal karena Komando Mandala yang dipimpinnya merupakan komando gabungan yang mempunyai tugas pokok mempersiapkan serta melaksanakan operasi-operasi militer untuk mengembalikan Irian Barat kedalam kekuasaan Republik Indonesia.
Wilayah opersai Komando Mandala mencakup kawasan yang terbentang luas dari Bujur 115 derajat sampai Bujur 141 derajat Timur dan Lintang 5 derajat Utara hingga 10 derajat Selatan. Luas kawasan Mandala tersebut mencakup areal 2.400 km kali 1.900 km atau sekitar 5.510.000 km persegi. Kawasan seluas itu, yang harus direbut melalui operasi militer, yang mau tak mau secara besar-besaran, ternyata lebih dari (9.975.000 km’) setengah luas Wilayah Indonesia. Wilayah yang dikuasai Komando Mandala selama ini biasa disebut denganistilah wilayah Indonesia bagian Timur. Mencakup kawasan laut, darat, dan udara dari empat Komando Daerah Militer (Kodam), dua Komando Daerah Maritim (Kodamar) serta dua Komando Regional Udara (Korud).
Salah satu respons yang ditanggapi oleh TNI AL atas perintah Trikora adalah pengadaan sukarelawan perang dalam wkatu terbatas. Suasana ketika Pelatihan untuk warga sipil terpilih
Salah satu respons yang ditanggapi oleh TNI AL atas perintah Trikora adalah pengadaan sukarelawan perang dalam waktu terbatas. Suasana ketika Pelatihan untuk warga sipil terpilih

Dengan mempelajari luasnya wilayah yang harus dikusasi oleh militer Indonesia, maka bias disimpulkan bahwa tuj uh puluh persen dari kekuatan Nasional akan dikerahkan untuk Operasi dan usaha perang Pembebasan Irian Barat. Upaya untuk menggalang kekuatan dari segala bidang memang harus segera dilakukan.
Apalagi perjuangan Pembebasan Irian Barat adalah konfrontasi di semua bidang terhadap Belanda dkk. Konfrontasi di bidang militer dilakukan sesuai dengan perkembangan diplomasi sekaligus memperhitungkan dinamikan politik, ekonomi, dan sosio psikologis masyarakat RI.
Sambil terus menggalang kekuatan dari berbagai sumber, baik militer dan maupun sipil, kapal perang ALRI dan sipil, APRI telah melancarkan operasi infiltrasi lewat udara dan laut. Infiltrasi lewat laut bahkan berlangsung penuh semangat dan melibatkan kapal-kapal kecil seperti MTB dan kapal selam. Infiltrasi dengan kapal kecil tidak selaluberjalan mulus, dalam sejumlah misi penyusupan kapal-kapal perang ALRI bahkan diserang oleh pesawat tempur dankapal perang Belanda.
Salah satu penyergapan oleh kapal-kapal perang dan pesawat tempur Belanda bahkan mengaki batkan tenggelamnya RI Macan Tutul serta gugurnya perwira senior, Komodor Yos Sudarso. Namun gugurnya Komodor Yos Sudarso dan puluhan pelaut lainnyé tidak membuat seman gat tempur pasnkan Komando Mandala surut justru makin berlitobar-kobar. Kapal-kapal pefang ALRI pun melanjutkan lagi penyusupan dan pengintaian Kegiatan untuk menyusupkan ke wilayah Irian Barat meningkat seiring dengan Operasi ]ayawi yang akan digelar pada bulan 1962.
Meskipun kemudian Operasi Jayawijaya dibatalkan karena Belanda memilih menyeselesaikan masalah Irian Barat secara damai. Beberapa hari menjelang Operasi Iayawijaya digelar, pada 14 Agustus 1942, seluruh 10 kompi telah berhasil cliinfiltrasikan ke daratan Irian Barat, baik lewat udara maupun laut. Dengan demikian, daerah defacto RI telah tercipta di tempat dan unsur-unsur kekuasaan Pemerintah RI juga telah diletakkan sesuai rencana operasi Komando Mandala. Dalam peran ini Komando ALLA telah aktif sekali melakukan pengintaian pengintaian dan menemukan kelemahan-kelemahan system pertahanan laut Belanda. (win)

Minggu, 24 Februari 2013

Menyusup ke malaysia

Profil pasukan tempur yang harus dihadapi oleh sukarelawan Indonesia.Satuan elite Inggris Royal Ulster Rifles slap menyergap penyusup di daeah rawa-rawa. Patroli hutan King's Own Yorkshire Inggris di hutan Kalimantan Utara. Personal Yorkshire yang herjalan paling depan tampak selalu menyiagakan senapan Sten Gun-nya.

Antara tahun 1961-1966 meletus konfrontasi Indonesia dart Malaysia yang kemudian memicu konflik bersenjata di perbatasan baik berupa penyusupan pasukan gerilya maupun pasukan regular. Tapi karena konflik itu merupakan peperangan yang tidak diumumkan (undeclared war) infiltrant yang menyusup menggunakan nama sukarelawan meskipun sebagian besar di antaranya merupakan anggota ABRI/TNI. Turunnya anggota TNI itu merupakan langkah antisipasi mengingat musuh yang dihadapi merupakan tentara profesional bersenjata lengkap dan didukung oleh persenjataan modern mulai dari tank hingga pesawat tempur.

Konflik itu sendiri awalnya berlangsung di Kesultanan Brunei dan jauh dari masalah di dalam negeri Indonesia. Pada 8 Desember 1962 di Kesultanan Brunei Darussalam yang kaya minyak dan merupakan protektorat Kerajaan Inggris meletus pemberontakan bersenjata. Para pemberontak yang tidak puas secara ekonomi dan politik di Brunei berniat mendirikan negara merdeka, Negara Kesatuan Kalimantan Utara (NKKU).
Dalam upacara proklamasinya para petinggi NKKU yang berasal dari Partai Rakyat pimpinan Ahmad Azahari rupanya tidak hanya memberontak terhadap Kesultanan Brunei tapi juga tidak setuju terhadap upaya pembentukan negara federasi Malaysia. Sebuah negara federasi yang sedang direncanakan akan dibentuk di antara daerah-daerah yang selama ini menjadi jajahan Inggris di wilayah Asia Tenggara.
Aksi pemberontakan di Brunei yang dimotori oleh sayap militer Partai Rakyat, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) ternyata tidak berumur panjang. Pasalnya pemerintah Inggris segera turun tangan dengan mengirimkan pasukan Gurkha dari Singapura. Berkat kemampuan tempur Gurkha yang sangat teruji para pemberontak TNKU segera bisa ditumpas dan banyak di antara para pemberontak yang selamat lari masuk hutan di Kalimantan Utara.
Pemberontak yang berhasil menyusup ke hutan serta merta menggalang dukungan dari penduduk setempat yang secara geografis wilayahnya ada yang masuk ke Indonesia. Untuk menggalang dukungan, gerilyawan TNKU tidak lagi ingin meruntuhkan pemerintahan monarki Brunei melainkan menyerukan ketidaksetujuannya terhadap pembentukan negara federasi Malaysia. Perang gerilya pun makin berkecamuk dan pasukan Inggris yang sudah berhasil mengamankan Brunei merasa kewalahan ketika medan tempur meluas hingga wilayah Kalimantan Utara, Sabah, dan Sarawak.
Bung Karno marah
Ketika pemberontakan di Brunei meletus secara tiba-tiba Presiden Soekarno sebenarnya sempat berang karena secara terang-terangan Brunei menuduh Indonesia sebagai penggerak kaum pemberontak. Tuduhan itu cukup masuk akal karena pemimpin Par-tai Rakyat, Azahari pernah menjadi anggota TNI dan bertempur di Yogyakarta. Meskipun ketika meletus pemberontakan, Azahari sedang ke Filipina untuk mencari dukungan, dan pemberontakan dilakukan oleh TNKU, Brunei tetap bersikeras Indonesia memberikan dukungan. Apalagi sisa pasukan TNKU yang lari menyusup ke Kalimantan Utara terus melancarkan perang gerilya dan diyakini mendapat dukungan dari warga Indonesia yang bermukim di Kalimantan Utara.
Akibat serangan gerilya yang bertujuan menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia, pemerintah Malaysia yang saat itu berpusat di Kuala Lumpur juga turut melontarkan kecaman terhadap Indonesia. Presiden Soekarno pun makin meradang akibat kecaman yang berasal dari dua kubu itu.
Pemerintah Indonesia pada awalnya tidak secara terbuka menolak pembentukan negara Federasi Malaysia yang akan menggabungkan bekas jajahan Inggris seperti Singapura, Sabah, Sarawak, dan Brunei. Gagasan untuk pembentukan negara federasi itu sendiri awalnya berasal dari Perdana Menteri Persekutuan Tanah Melayu Tunku Abdul Rah-man yang dikemukakan di depan forum The Foreign Correspondents Association of South East Asia. Pemerintah Indonesia masih bersikap pasif karena sedang disibukkan dengan kampanye Trikora untuk membebaskan Irian Barat. Presiden Soekarno yang sedang menghadapi masalah ekonomi juga berusaha tetap menahan diri kendati keinginan untuk berkonfrontasi dengan Malaysia sudah naik ke ubun-ubun.
Namun sesudah beberapa bulan mendiamkan saja beragam kecaman yang diontarkan Kuala Lumpur, pada bulan April 1963 Bung Karno betul-betul tidak bisa menahan din. Di depan peserta yang menghadiri Konferensi Wartawan Asia Afrika yang berlangsung di Jakarta, Bung Karno terang-terangan menentang pembentukan negara Federasi Malaysia. Konfrontasi dengan Malaysia pun tak terelakkan dan seluruh kekuatan politik dan militer Indonesia segera diarahkan untuk mengempur Malaysia.
Militer Indonesia yang sebelumnya digelar untuk Operasi Trikora kembali disibukkan oleh perintah Bung Karno yang sangat tiba-tiba itu. Secara psikologis militer Indonesia bahkan tidak berharap terjadi perang karena musuh yang dihadapi, khususnya Inggris dan sekutunya sangat kuat. Tapi perintah pemimpin besar revolusi yang sedang emosional tetap harus dijalankan sebaik-baiknya.
Keadaan makin memanas karena pada tanggal 29 Agustus 1964 pembentukan negara Malaysia telah ditetapkan di Kuala Lumpur dan London. Pengumuman yang dilakukan secara mendadak dan sepihak itu sangat mengejutkan karena tim pencari fakta PBB yang terdiri dari sembilan negara belum sempat meyelesaikan tugasnya. Tim itu bahkan belum tiba di Kalimantan Utara tapi pengumuman berdirinya negara Malaysia ternyata telah berlangsung. Pengumuman itu bagi Presiden Soekarno yang pernah menghadiri KTT di Mania dan membicarakan tentang berdirinya negara Malaysia tidak hanya melanggar kesepakatan KTT tapi juga menghina pribadi Soekarno.
Dalam kesepakatan KTT di Mania, Soekarno tidak menghalangi pembentukan negara federasi Malaysia asalkan diadakan jajak pendapat terlebih dahulu terhadap masyarakat yang tinggal di Kalimantan Utara.
Menyikapi pengumuman pembentukan negara Malaysia yang bersifat melecehkan kedaulatan Indonesia itu, Soekarno dan kabinetnya segera menempuh jalur keras. Mereka mengemukakan pembentukan Malaysia melanggar tiga hal. Pertama, tidak demokratis, kedua bertentangan dengan KTT Manila, dan ketiga bertentangan dengan resolusi PBB mengenai dekolonisasi. Reaksi keras dan konfrontatif yang kemudian ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia adalah tidak hanya sekedar merestui aksi penyusupan para sukarelawan masuk ke seberang perbatasan Malaysia. Tetapi secara terangterangan kekuatan pasukan ABRI mulai menampakkan dukungannya kepada perjuangan rakyat Kalimantan Utara. Aksi ganyang Malaysia pun tinggal menunggu hari.
Dwikora
Tindakan militer untuk menggempur Malaysia pun dikumandangkan oleh Soekarno di de-pan rapat raksasa di Jakarta pada 3 Mei 1964. Presiden Soekarno lalu mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Poin pertama Dwikora adalah petinggi ketahanan revolusi Indonesia. Kedua, membantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia.
Komando tempur Dwikora dipercayakan kepada Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani yang menjabat sebagai Panglima Komando Siaga (KOGA). Sementara tugas yang dibebankan kepada KOGA adalah mempersiapkan operasi militer terhadap Malaysia. Sebagai Panglima KOGA, Omar Dhani bertanggung jawab langsung kepada Panglima Tertinggi ABRI/ KOTI, Presiden Soekarno. Tapi sebelum KOGA dibentuk, aksi penyusupan yang dilancarkan oleh sukarelawan Indonesia sudah berlangsung cukup lama.
Kontak senjata yang terjadi antara pasukan Inggris dan sukarelawan Indonesia yang berlangsung di hutan-hutan Kalimantan Utara tidak jarang menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Operasi penyusupan yang digelar Indonesia ke wilayah perbatasan Malaysia sesungguhnya merupakan operasi yang berbahaya karena musuh yang dihadapi merupakan pasukan reguler terlatih dan berpengalaman di berbagai medan perang. Militer Malaysia yang didukung Inggris dan negara-negara persemakmuran seperti Selandia Baru serta Australia tidak bisa dihadapi oleh pasukan gerilya yang menyamar dan mengunakan persenjataan terbatas. Gerilyawan Indonesia yang terdiri dari para sukarelawan bahkan harus menghadapi pasukan Gurkha dan SAS Inggris yang sudah sangat berpengalaman dalam pertempuran hutan. Selain itu, garis perbatasan Malaysia-Indonesia yang panjangnya sekitar 1.000 km juga tidak mungkin hanya diamankan oleh pasukan gerilya.
Kondisi itu mungkin tidak terpikirkan oleh Presiden Soekarno yang sedang bersemangat setelah sukses merebut Irian Barat lewat Trikora. Tapi bagi Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Achmad Yani, situasi medan tempur di perbatasan itu sangat merisaukannya, kendati Angkatan Darat sudah mengirim Batalyon II RPKAD untuk mengamankan perbatasan. Letjen Ahmad Yani pun segera memanggil personel andalan RPKAD yang sukses memimpin perang gerilya di Irian Barat, Mayor Benny Moerdani. Tugas yang kemudian dibebankan kepada Benny adalah segera berangkat ke Kalimantan Utara dan mengorganisasi cara menangkal aksi penyusupan pasukan Inggris.
Inggris yang menyiagakan helikopter bisa dengan cepat mengevakuasi korban luka dan tewas.

Karena tugas Benny merupakan misi rahasia dan setibanya di Kalimantan Utara tidak menggunakan identitas prajurit RPKAD, Benny yang berangkat langsung dari Cijantung hanya membawa tim kecil. Tujuan operasi penyusupan tim kecil Benny adalah mengamati rute-rute penyerbuan yang nantinya bisa dipakai oleh induk pasukannya. Kawasan yang pertama kali menjadi daerah operasi Benny dan timnya di Kalimantan Utara adalah sebuah dusun kecil yang berlokasi di seberang perbatasan Serawak-Kalimantan Barat. Setelah sesuai dengan sasaran yang diserbu oleh RPKAD dan satuan lainnya pasukan kecil Benny terus melaksanakan tugas secara berpindah-pindah.
Selama melaksanakan misi pengintaian dan penyusupan di perbatasan, Benny –meskipun pada saat itu ABRI sudah secara terang-terangan membantu gerilyawan TNKU, harus selalu melaksanakan taktik penyamaran Sesuai kebijakan yang diambil pimpinan ABRI masa itu, Benny memperoleh identitas baru sebagai seorang sukarelawan dan memakai seragam TNKU. Nama yang tertulis di kartu anggota TNKU tetap Moerdani, tapi dia dijadikan warga masyarakat Kalimantan Selatan, kelahiran Muarateweh, kota kecil yang berada di tepi Sungai Mahakam. Bersama personel TNKU yang dipimpinnya Benny kemudian mulai melancarkan perang gerilya terhadap pasukan Inggris. Pasukan TNKU yang berintikan prajurit RPKAD yang sudah berpengalaman tempur itu pun langsung menunjukkan prestasinya kendati musuh yang dihadapi merupakan pasukan khusus SAS.
Diplomasi Intelejen
Dalam suatu serangan penyergapan di pedalaman Kalimantan Timur yang berhutan lebat pasukan gerilya TNKU berhasil menawan satu orang musuh, menembak mati satu orang lagi, sementara dua musuh berhasil melarikan diri dan lobos karena.diselamatkan heli Inggris. Dad total musuh yang berjumlah empat orang, tim kecil bisa dipastikan anggota SAS yang sedang menyusup.
Peristiwa tertawannya satu anggota pasukan SAS itu segera disampaikan kepada Letjen Ahmad Yani. Karena merupakan peristiwa sangat penting, anggota SAS yang tertawan dan terluka cukup serius itu segera diperintahkan oleh Ahmad Yani untuk dikirim ke Jakarta guna kepentingan propaganda. Bukti adanya pasukan SAS yang tertawan jelas akan membuat pemerintah Inggris mengambil sikap terhadap kebijakan militernya di perbatasan Kalimantan-Malaysia.
Tapi karena kurangnya alat transportasi dan sarana kesehatan, anggota SAS yang tertawan ternyata sudah meninggal sebelum dikirim ke Jakarta. Mayat anggota SAS itu akhirnya terpaksa dikuburkan di tengah hutan Kalimantan dan hanya dog tag dan persenjataannya yang dikirim ke Jakarta sebagai barang bukti.
Pada pertengahan tahun 1964 konfrontasi Indonesia-Malaysia makin memuncak apalagi setelah pasukan TNI AU menerjunkan sekitar 100 pasukan ke wilayah Labis dan kemudian Johor. Aksi ini nyaris menyulut aksi balasan besar-besaran yang akan dilancarkan RAF dan AL Inggris. Jika pesawat-pesawat tempur RAF yang berpangkalan di Singapura sampai menyerang Jakarta, konflik Indonesia-Malaysia pasti berubah kepada kondisi yang sangat merugikan Indonesia.
Untuk mengatasi hal terburuk itu, Benny pun dipanggil pulang ke Jakarta pada bulan Agustus 1964. Untuk pulang ke Jakarta dari pedalaman Kalimantan bukan sesuatu yang mudah bagi Benny. Pasalnya is harus berjalan kaki selama empat hari ke kawasan Long Sembiling, lalu disusul melewati belasan jeram sebelum mencapai sungai besar yang menjadi sarana transportasi utama di Kalimantan. Setelah menyusuri sungai besar tersebut Benny pun akhirnya tiba di Tarakan dan selanjutnya terbang ke Jakarta.
Menyadari bahwa jika pasukan Inggris sampai mengerahkan seluruh kekuatannya akan berakibat fatal, pemerintah Indonesia pun segera melakukan penyempurnaan terhadap organisasi pertahanannya. Komando KOGA yang menurut Presiden Soekarno dianggap tidak bisa berjalan efektif kemudian diubah menjadi Komando Mandala Siaga (KOLAGA). Dalam struktur komando ini Omar Dhani tetap menjabat panglima namun kekuasaannya mulai berkurang karena wilayah komandonya dibatasi hanya di mandala Sumatra dan Kalimantan.
Kewenangan komando Omar Dhani semakin surut setelah pada 1 Januari 1965, Soekarno menunluk Mayjen Soeharto sebagi Wakil Panglima I Kolaga. Wibawa Omar Dhani pun makin merosot akibat kehadiran Soeharto yang telah sukses menggelar Operasi Trikora itu. Sebagai Wakil Panglima I Kolaga dan sekaligus Panglima Kostrad, Soeharto segera melaksanakan perjalanan di seluruh wilayah Kalimantan Utara dan Sumatra Utara. Dad semua wilayah yang dikunjungi sesuai perintah Dwikora akan dilaksanakan serangan besar-besaran terhadap Malaysia. Tapi Soeharto ternyata punya pertimbangan tersendiri terhadap perkembangan situasi yang kritis dari konflik Indonesia-Malaysia.
Pertimbangan Soeharto terhadap konflik yang makin memanas itu menjadi semakin realistis sejak munculnya gerakan G30S/PKI yang mengakibatkan korban sejumlah jenderal AD, salah satunya adalah Achmad Yani. Gerakan G30S/PKI yang berhasil ditumpas berkat ketegasan kepimpinan Soeharto itu makin membuat wibawanya naik daun. Beberapa minggu kemudian Omar Dhani yang dianggap terkait G30S/PKI diberhentikan dan Panglima Kolaga langsung diserahkan kepada Soeharto.
Tak lama kemudian disusul munculnya Supersemar 11 Maret 1966 yang berisi surat perintah penyerahan kekuasaan kepada Soeharto. Dengan modal kekuasaan dan wibawa yang dimilikinya Soeharto pun memaki kebijakan sendiri untuk mengatasi konfrontasi Indonesia -Malaysia. Secara diam-diam Soeharto kemudian membuka operasi rahasia yang bersifat khusus. Untuk melaksanakan operasi tersebut ternyata dipercayakan kepada Benny.
Tujuan operasi khusus itu sendiri ada dua target. Pertama, melakukan usaha penggalangan dengan para tokoh masyarakat dan partai-partai politik di Malaysia yang tidak mendukung pembentukan negara Malaysia. Melalui orang-orang yang mendukung itu, mereka akan dimanfaatkan untuk mendukung perjuangan Indonesia. Kedua, mengkaji secara mendalam kebenaran persepsi dan sikap formal pemerintah Indonesia yang beranggapan Indonesia memang telah dikepung oleh Nekolim Malaysia. Sementara sasaran inti operasi khusus adalah seluruh potensi yang anti federasi dan pro pemerintah Indonesia serta mereka yang kemungkinan menyetujui adanya gagasan untuk mengakhiri konfrontasi secara damai. Namun jika operasi khusus itu menemui kegagalan semua kekuatan militer Indonesia siapkan melakukan penghancuran fisik terhadap Malaysia.
Dari Thailand
Operasi khusus yang dipimpin oleh Benny tidak dilaksanakan langsung dari Indonesia melainkan dari daratan Thailand yang berada di lambung belakang Malaysia. Operasi itu terbagi dalam empat jenis, yakni operasi intelijen, operasi teritorial, operasi kantong, dan operasi ganyang. Operasi intelijen bertujuan mengumpulkan segala macam bahan-bahan intelijen, operasi teritorial bertujuan membantu rakyat setempat yang menentang pembentukan negara Malaysia, operasi kantong merupakan pemindahan pasukan ABRI dari perbatasan masuk ke daerah lawan secara clandestine, dan operasi ganyang merupakan aksi perongrongan oleh para gerilyawan di daerah lawan.
Pesawat-pesawat pembom Inggris Avro Vulcan tampak disiagakan di pangkalan milder Butterworth Penang. Sejumlah born tampak disiagakan dan siap dipasang.Sesuai rencana jika konflik makin meluas RAF akan melancarkan Operation Profitter Valiants untuk menyerang Jawa dan Sumatra.
Operasi khusus yang ditangani Benny ternyata lebih menonjol dan cenderung menyelesaikan konfrontasi Indonesia-Malaysia secara damai. Benny yang saat berada di Thailand menyamar sebagai petugas tiket Garuda, tugasnya tidak hanya secara diam-diam mengirimkan infiltrant lewat Thailand tapi membangun kontak dengan tokoh-tokoh Malaysia yang pro damai. Kontak pertama dengan tokoh Malaysia bernama Ghazali dilakukan Benny di Bangkok. Kehadiran Ghazali sendiri saat itu didampingi Des Alwi, tokoh nasionalis Indonesia yang terpaksa melarikan diri ke Malaysia karena menentang kepemimpinan Bung Karno. Dari dua orang yang ditemuinya itu, Benny yang sudah mendatangkan Ali Moertopo ke Bangkok, lalu membangun kontak lebih jauh lagi, yakni bertemu Menteri Pertahanan Malaysia, Tun Abdul Razak.
Des Alwi yang kemudian bertemu Abdul Razak ternyata mendapat sambutan positif karena Menhan Malaysia ini ternyata menginginkan penyelesaian secara damai. Berbeda dibandingkan PM Malaysia Tunku Abdul Rah-man yang masih menginginkan konfrontasi. Des Alwi juga menekankan keinginan penyelesaian secara damai itu bukan datang dari Soekarno melainkan dari Soeharto yang juga menjabat Panglima Kostrad. Kepercayaan Razak makin mantap karena sepengetahuannya Kostrad tidak begitu antusias mengganyang Malaysia. Itu bisa dilihat dari sedikitnya personel Kostrad yang berhasil ditawan Malaysia. Dengan unsur “tidak begitu dendam” terhadap Kostrad, Razak kemudian bersedia untuk segera bertemu Benny.
Tak lama kemudian pertemuan Benny dan Razak berlangsung di Bangkok. Hasil pertemuan untuk penyelesaian secara damai bahkan makin maju karena Razak yang begitu antusias malah mengundang Benny untuk datang ke Kuala Lumpur.
Ketika perundingan damai antara Benny dan Menlu Razak makin mengalami kemajuan, pertempuran di perbatasan masih berlangsung sengit. Baik politisi dan petinggi militer Malaysia maupun Indonesia hanya sedikit yang mengetahui upaya penyelesaian damai itu. Benny sendiri ketika berkunjung ke Malaysia melakukannya secara rahasia. Agar tidak mengundang kecurigaan para petugas intelijen Inggris yang banyak berkeliaran di Malaysia, Benny mempergunakan dokumen perjalanan Malaysia. Misi Benny sukses selain bertemu Razak, dia juga sempat mengunjungi tahanan asal Indonesia dan memproses administrasi untuk memulangkan mereka kelak. Benny bahkan bisa menyiapkan safe house di Kuala Lumpur untuk lokasi perundingan-perundingan selanjutnya.
Tim operasi khusus yang kemudian memungkinkan pejabat Indonesia bisa berkunjung ke Kuala Lumpur untuk berunding bahkan menjadi lebih lengkap. Tidak hanya Benny, tapi anggota tim utama lainnya seperti bos Benny, Ali Moertopo, Daan Mogot, dan Willy Pesik juga hadir. Kedatangan tim secara rahasia itu bahkan sempat menggemparkan Malaysia. Pasalnya, kendati tim Benny datang dengan memakai dokumen perjalanan Malaysia, secara tak sengaja mereka mengisi kolom formulir imigrasi sehingga petugas imigrasi tahu adanya orang yang menyelundup ke Kuala Lumpur.
Menteri Dalam Negeri Malaysia Tun Ismail menjadi berang karena merasa tidak diberi tahu, tapi mujur Abdul Razak bisa menjernihkan kehebohan itu. Meskipun Mendagri Ismail sempat berang, kontak Razak dan tim Benny serta All Moertopo yang berada di Jakarta ternyata masih bisa berjalan secara rahasia. Pihak Inggris dan PM Malaysia yang sengaja tidak diberi tahu mengenai upaya damai ternyata diam-diam, saja seperti tidak tahu sama sekali. Sebaliknya di Indonesia, Bung Karno yang sudah mencium upaya damai itu malah tampak tenangtenang dan menilai Benny sedang belajar jadi seorang diplomat.
Puncak dari operasi rahasia adalah ketika sebuah Hercules TNI AU pada 25 Mei 1966 terbang secara rahasia dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Hercules yang mengangkut sejumlah perwira tinggi ABRI untuk perdamaian itu akan mendarat di Bandar Udara Subang, Kuala Lumpur, dan selanjutnya meneruskan perjalanan menuju Alor Setar, ibukota negara bagian Kedah untuk mengawali pembicaraan dengan PM Malaysia Tunku Abdul Rahman. Yang unik Tunku Abdul Rahman saat itu tidak mempercayai Razak bahwa akan datang tim perdamaian dari Indonesia. Namun demikian, Tunku Rahman tetap terbang menuju Alor Setar. Sebaliknya ketika Tunku sudah terbang, Abdul Razak mulai was-was karena Hercules TNI AU yang ditunggutunggu tidak segera tiba.
Misi Damai
Ketegangan dalam menunggu kedatangan Hercules makin diperburuk karena adanya gangguan komunikasi radio dan dugaan jangan-jangan Hercules misi damai itu telah ditembak jatuh Inggris. Kendati merupakan penerbangan untuk misi damai, rute yang dilalui Hercules tetap melalui kawasan udara yang menjadi kawasan patroli bagi pesawat-pesawat tempur RAF. Setelah diketahui bahwa gangguan komunikasi radio disebabkan gelombang radio di Subang sedang diganti frekuensinya, Razak dan timnya akhirnya hanya bisa menunggu. Tapi Razak tetap masih menunjukkan kegelisahannya karena terlanjur mengirim sebuah pesawat terbang dengan harapan bisa memandu Hercules. Pesawat yang dikirim Razak ini juga tetap saja rentan terhadap sergapan pesawat tempur Inggris.
Tim misi perdamaian dari Indonesia yang berkunjung ke Kuala Lumpur hulan Mei 1966 dan ditemui petinggi Malaysia. Dari kiri Tan Srie Ghazalie Shatie, Ali Moertopo, Tun Abdul Razak, Benny Moerdani, Tun Ismail, Daan Mogot.

Hercules misi damai yang dipiloti Komodor Susanto akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Kuala Lumpur. Setelah mengadakan perundingan dengan Razak dan sukses, tim sepakat melanjutkan perundingan dengan Tunku di Alor Setar. Tapi mendaratnya pesawat militer Indonesia di Kuala Lumpur dengan misi rahasia ternyata membuat perwakilan Inggris marah besar. RAF bahkan mengancam akan menembak jatuh Hercules yang melanjutkan perjalanan ke Kedah karena pasti melintasi ruang udara Butterworth. Penang, tempat pangkalan militer Inggris. Sementara delegasi Indonesia juga tak mungkin meninggalkan Hercules TNI AU karena pasti akan disabot oleh Inggris. Untuk mengatasi kendala itu sejumlah pejabat pen-ting Malaysia memutuskan masuk Hercules sehingga membuat RAF kebingungan.
Mereka tidak mungkin menembak jatuh Hercules yang berisi para pejabat penting Malaysia. Penerbangan ke Kedah pun berlangsung dalam suasana penuh ketegangan. Suasana bersahabat baru muncul setelah rombongan tiba di rumah peristirahatan Tunku Rahman. Kehadiran Benny yang cukup dikenal Tunku lewat Razak bahkan makin memperlancar pertemuan.
Hasil perundingan sukses dan pada 27 Mei, tim perdamaian Indonesia sudah bisa pulang ke Jakarta. Tindak lanjut dari pertemuan dengan Tunku Rah-man adalah perundingan Abdul Razak dengan Menlu Adam Malik di Bangkok dan langsung menghasilkan rumusan mengenai penyelesaian konfrontasi secara damai. Tapi sikap Adam Malik yang menerima begitu saja setiap usulan Malaysia sempat membuat Bung Karno dan unsur dari ABRI kecewa, sehinggga peran Adam Malik diserahkan kepada Soeharto. Di tangan Soeharto bola penyelesaian damai seolah menemukan penyerang yang tinggal mengegolkan ke gawang.
Pada 11 Agustus 1966, piagam yang dikenal sebagai Jakarta Accord berisikan persetujuan untuk menormalisasi hubungan Indonesia-Malaysia disepakati. Konfrontasi yang telah menelan korban jiwa dan harta pun bisa diakhiri dengan memuaskan dan menghindarkan dari perang yang makin meluas hingga ke Sumatra dan Jawa. Setelah perdamaian bisa diwujudkan, Benny ternyata masih bertahan di Kuala Lumpur. Prajurit komando itu tidak lagi bertugas menggalang pasukan gerilyawan tapi bertugas memulihkan kembali persahabatan antara kedua Bangsa baik secara diplomatik maupun sebagai saudara serumpun. (win)

Misi Penyusupan TNI AL


Selain melancarkan operasi penyusupan lewat perbatasan yang berada di darat pasukan TNI khususnya TN1AL juga melancarkan operasi militer lewat laut. Tujuan operasi penyusupan yang dilaksanakan oleh Pasukan Katak (Kopaska) dan Marinir (KKO) berupa operasi intelijen, provokasi, dan sabotase. Salah satu misi operasi sabotase yang berhasil adalah yang dilakukan oleh Sersan Dua KKO Djanatin, Kopral Satu KKO Tohir, dan rekannya yang bertindak sebagai operator perahu, Gani bin Aroep. Untuk mengamankan jalannya operasi mereka mengubah nama menjadi nama samaran sesuai warga setempat. Djanatin memakai nama samaran Usman bin Haji Muhammad All dan Tohir memakai nama samaran Harun bin Said.
Sasaran utama misi rahasia itu adalah melakukan sabotase di pusat kota Singapura dengan berbekal bahan peledak seberat 12,5 kg. Target yang harus diledakkan adalah gedung MacDonald House yang berada di pusat keramaian kota. Karena ketatnya penjagaan di perairan Singapura ketiga infiltrant itu menyamar sebagai pemasok barang dagangan ke Malaysia dan Singapura. Ketika sedang menyamar sebagai pedagang itu mereka mempelajari sasaran yang harus diserang termasuk rule bagaimana harus melarikan diri. Setelah merasa yakin dengan semua rencana yang sudah dimatangkan mereka pun slap melancarkan aksi sabotase.
Saat menjelang fajar menyingsing tanggal 9 Maret 1965 ketiga in/Want berhasil mendarat di pantai Singapura dan menyusup masuk ke pusat
kota Singapura. Gedung MacDonald yang menjadi sasaran sabotase berhasil diledakkan pada pukul 03.07. Saat kembali menuju perahu karet yang ditempatkan di lokasi tersembunyi, Djanatin dan Tohir sengaja berpisah dengan Gani. Taktik memisahkan diri itu bertujuan untuk menghindari kecurigaan dari aparat kepolisian yang telah melancarkan operasi pencarian secara besar-besaran. Djanatin dan Tohir berhasil mencapai pantai dan selanjutnya melarikan diri menggunakan perahu motor rampasan. Tapi pelarian yang berlangsung pada 13 Maret 1965 itu mengalami kendala karena secara tiba-tiba mesin perahu mati. Tak lama kemudian polisi perairan Singapura berhasil menemukan dan menangkap mereka.
Kedua infiltrantdari KKO itu oleh Singapura dianggap sebagai pelaku terorisme dan bukan tawanan perang karena ketika sedang melancarkan misinya tidak mengenakan seragam serta identitas militer. Setelah diadili kedua infiltrant yang bertempur demi tugas negara akhirnya dijatuhi hukuman mati. Upaya diplomatik membebaskan mereka dari hukuman mati atau minimal mengubah hukuman jadi seumur hidup diupayakan secara keras oleh pemerintah RI, namun gagal. Tiga tahun kemudian pada hari Kamis 17 Oktober pukul 06.00, Usman dan Harun dihukum
mati dengan cara digantung. Karena keduanya bertugas membela negara saat jenazahnya dipulangkan ke Indonesia mereka mendapatkan penghormataan sebagai pahlawan dan diberikan penghargaan tertinggi Bintang Sakti serta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (win)

Benny Moerdani Nyaris Tewas

Profil Benny dalam seragam dan identitas TNKU serta sejumlah anggota TNI AD saat berada di perbatasan.

Tugas Benny Moerdani menyusup ke Kalimantan Utara merupakan misi militer yang sangat berat dan penuh risiko. Setiap harinya Benny bersama tim kecil RPKAD berjalan kaki menyusuri hutan lebat selama berjam-jam untuk membuka jalur bagi pasukan induk AD yang nantinya bertugas menyerbu Malaysia. Jika tidak sedang melewati hutan lebat, Benny dan timnya menyusuri sungai yang berada di wilayah Kalimantan Utara menggunakan perahu. Baik misi penyusupan yang melewati wilayah daratan maupun sungai, Benny dan timnya selalu terancam oleh pasukan Inggris yang slap menghadang. Selain menyiapkan sergapan pasukan Inggris yang rutin patroli juga kerap bertemu dengan gerilyawan dari Indonesia sehingga kontak senjata yang memakan korban jiwa tak bisa dihindari.
 
Kartu identitas TNKU Benny Moerdani

Ketika Benny dan timnya sedang bertugas menyusuri sungai, sejumlah pasukan SAS Inggris ternyata sudah menunggu di seberang sungai dan berada di tempat ketinggian yang strategis. Posisi Benny yang berada di perahu paling depan sudah masuk ke dalam jarak tembak sniperSAS yang slap dengan senapan terbidik. Dari teropongnya sniperSAS bisa melihat sosok Benny secara jelas tapi jari yang telah menyentuh picu senjata masih diam. Setelah sekian detik, picu senjata ternyata tak jadi ditarik dan senapan lainnya yang sudah slap tembak dan dibidikkan secara akurat oleh semua personel SAS juga tidak menyalak. Semua personel yang dipimpin Benny akhirnya lolos dari sergapan mematikan itu.
Pada tahun 1976 Benny berkunjung ke Inggris dan secara tak terduga is dipertemukan dengan dua prajurit SAS yang dulu nyaris menembaknya. Personel SAS yang pernah mengincarnya ternyata masih mengenali Benny yang secara fisik tidak berubah banyak. Benny lalu bertanya kenapa personel SAS itu tak jadi menembaknya. Salah seorang langsung menjawab, bahwa timnya harus menunggu dulu datangnya kapal perang HMS Queen Elizabeth. Jika saat itu Benny ditembak dan kemudian berlangsung baku tembak, kapal HMS Queen Elizabeth bisa terganggu perjalanannya. Namun, hingga semua tim Benny pergi, kapal HMS Queen Elizabethternyata tidak jadi melintas. Mendengar kisah prajurit SAS itu, Benny serta-merta berkomentar, jika saat itu dirinya jadi ditembak, pasukan Inggris telah berhasil menembak mati prajurit dengan pangkat tertinggi dan bisa saja konfrontasi Indonesia-Malaysia berakhir lain.(win)



sumber : Sejarah perang